JAKARTA | Matapenanews.co.id– PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan penyaluran kredit sebesar Rp968,5 triliun pada semester I 2026. Capaian tersebut tumbuh 24,4 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit ini merupakan bagian dari strategi BNI dalam memperluas pembiayaan ke berbagai segmen usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perusahaan menengah, hingga korporasi besar.
Dalam keterangan tertulis yang diterima pada 8 Agustus 2026, BNI menyampaikan bahwa penyaluran kredit dilakukan dengan mengedepankan analisis prospek industri, kapasitas pembayaran debitur, serta profil risiko masing-masing nasabah.
Pembiayaan tersebut dialokasikan untuk berbagai kebutuhan, antara lain modal kerja, penambahan persediaan, peningkatan kapasitas produksi, pengadaan peralatan, perluasan jaringan pemasaran dan distribusi, serta pengembangan proyek dan ekspansi usaha.
BNI menilai kebutuhan pembiayaan pelaku usaha terus meningkat seiring pertumbuhan aktivitas bisnis di berbagai sektor. UMKM membutuhkan tambahan modal untuk meningkatkan produksi dan memperluas pasar, sementara perusahaan menengah dan korporasi memerlukan dukungan pembiayaan untuk pengembangan proyek, penguatan modal kerja, serta optimalisasi rantai pasok.
Untuk memperluas akses pembiayaan, BNI memperkuat jaringan layanan melalui implementasi strategi Branch, Region & Area Value Empowerment (BRAVE). Melalui pendekatan ini, kantor wilayah dan cabang diarahkan untuk lebih memahami karakteristik ekonomi lokal serta mengoptimalkan potensi bisnis di masing-masing daerah.
BNI juga mendorong unit kerja untuk mempererat hubungan dengan pelaku usaha guna menghadirkan solusi pembiayaan yang lebih tepat sasaran sesuai kebutuhan dan potensi wilayah.
Di sisi lain, pertumbuhan kredit tersebut tetap diiringi penerapan prinsip kehati-hatian. BNI mencatat perbaikan kualitas aset pada semester I 2026.
Rasio loan at risk (LAR) turun dari 11,0 persen menjadi 8,1 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) berada pada level 1,9 persen.
Direktur Risk Management BNI, David Pirzada, menyampaikan bahwa pengelolaan risiko dilakukan secara disiplin sejak tahap awal penentuan sektor prioritas hingga pemantauan pascapenyaluran kredit.
“Pengelolaan risiko dilakukan sejak tahap penetapan sektor prioritas, analisis kelayakan debitur, hingga pemantauan pascapenyaluran kredit. BNI juga terus memperkuat sistem peringatan dini agar setiap perubahan profil risiko dapat diidentifikasi dan ditangani secara lebih cepat,” ujar David.
Memasuki semester II 2026, BNI menegaskan komitmennya untuk menjaga pertumbuhan kredit yang sehat dengan portofolio yang terdiversifikasi. Perseroan juga akan terus memperkuat kualitas aset melalui pengelolaan risiko yang disiplin serta penguatan pencadangan.
Transformasi BRAVE dan digitalisasi jaringan menjadi bagian dari strategi utama BNI untuk meningkatkan produktivitas layanan sekaligus memperluas jangkauan pembiayaan di berbagai daerah.
BNI menyebut strategi tersebut sejalan dengan arah pengelolaan BUMN di bawah Danantara Indonesia, yang menekankan peningkatan daya saing, pertumbuhan usaha berkelanjutan, serta penciptaan nilai jangka panjang.
Dengan capaian kredit sebesar Rp968,5 triliun serta perbaikan kualitas aset, kinerja BNI pada semester I 2026 menjadi indikator penting dalam melihat arah ekspansi pembiayaan perseroan pada paruh kedua tahun ini. (***)





