SULUT, Bolsel | Matapenanews.co.id- Di tengah kehidupan masyarakat Desa Linawan, sosok Saripa Gomba, SH dikenal sebagai perempuan yang sederhana, ramah, dan mudah berbaur dengan berbagai kalangan.
Kesehariannya sebagai ibu rumah tangga tidak membuat Saripa membatasi ruang untuk bersosialisasi. Ia justru aktif membangun silaturahmi dan menjalin komunikasi dengan teman-teman maupun masyarakat di lingkungannya.
Dari berbagai perjumpaan dan percakapan tersebut, Saripa kerap mendengar langsung cerita, harapan hingga berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Kedekatan itu kemudian menumbuhkan kepedulian sekaligus keinginan dalam dirinya untuk mengambil peran yang lebih luas bagi masyarakat dan kemajuan Desa Linawan.
Bagi Saripa, kehidupan bermasyarakat tidak hanya berbicara tentang hubungan antarwarga, tetapi juga tentang bagaimana membangun rasa kekeluargaan, saling menghargai, membantu dan menguatkan satu sama lain.
Nilai kebersamaan dan gotong royong itulah yang ingin terus ia jaga dalam kehidupan masyarakat Desa Linawan.
Keputusan Saripa untuk maju sebagai Bakal Calon Sangadi Desa Linawan pun disebutnya bukan semata-mata untuk mengejar jabatan. Langkah tersebut merupakan bagian dari keinginannya untuk mengambil tanggung jawab dan peran yang lebih besar dalam pembangunan desa.
Pengalaman hidup serta kedekatannya dengan masyarakat ingin dijadikannya sebagai modal untuk membangun komunikasi yang terbuka antara pemerintah desa dan seluruh warga.
Menurut Saripa, pembangunan desa tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah desa. Kemajuan sebuah desa membutuhkan keterlibatan, dukungan dan partisipasi seluruh masyarakat.
Karena itu, dalam arah visi dan misinya, Saripa membawa semangat untuk membangun Desa Linawan dengan mengedepankan musyawarah, keterbukaan, keadilan, pelayanan kepada masyarakat serta gotong royong.
Baginya, kepemimpinan di tingkat desa pada dasarnya merupakan amanah untuk hadir di tengah masyarakat, mendengarkan suara warga dan bekerja bersama untuk mencapai tujuan pembangunan.
“Torang berbeda pilihan itu biasa, tetapi torang tetap satu keluarga. Mari baku bantu, baku jaga, dan bersama-sama membangun Desa Linawan.” (***)





